Rabu, 21 Mei 2008

Present du subjunctif

Le présent du subjonctif

Anda telah tahu bahwa pada dasarnya dalam setiap bahasa terdiri atas 3 jenis kalimat, yaitu:

1) Kalimat yang menyatakan bahwa perbuatan atau tindakan sebenarnya sedang terjadi. Misalnya : Dia menghisap rokok.

2) Kalimat yang menunjukkan larangan, permohonan atau suruhan. Umpama : Jangan pergi! Tolonglah aku! Tolong ambilkan aku pensil itu!!

3) Kalimat yang menyatakan bahwa keinginan, hasrat, kerinduan atau keperluan. Dalam bahasa Perancis, jenis kalimat nomor 3 ini juga banyak dipakai orang. Kalimat dengan bentuk seperti ini dinamakan le présent du subjonctif.

Subjonctif berhubungan dengan 2 macam waktu dalam setiap verba, yakni waktu kini (présent du subjonctif) dan waktu lampau (imparfait du subjonctif). Untuk membuat kalimat dalam bentuk présent du subjonctif dilakukan dengan cara mengambil atau memotong – nt dari pelaku orang ketiga jamak bentuk présent de l’indicatif. Kemudian sisanya inilah yang merupakan orang pertama tunggal pada bentuk subjonctif.

Contoh: Ils craigne-nt, orang ketiga jamak présent (infinitif: craindre - takut) menjadi: que je craigne, yaitu orang pertama subj.). Dengan menambah akhiran ( -e, -es, -e, - ions, iez, - ent) di belakang akar tersebut, dengan mudah kita dapat membuat bentuk subjonctif ini pada verba lain, kecuali untuk kata kerja : être, avoir, aller, faire, pouvoir, savoir, valoir dan vouloir. Karena verba-verba yang disebutkan terakhir ini merupakan présent du subjonctif yang tidak beraturan, sehingga perlu pembahasan secara khusus.

Di bawah ini beberapa perasaan yang harus kita buat dalam kalimat subjonctif.

v Jika dalam kalimat pokok terdapat verba yang menyatakan suatu keinginan (vouloir – mau; exiger – menuntut; désirer – menginginkan)

Contoh :

Je veux que vous travailler. - Saya mau kamu sekalian/anda bekerja.

On exige que nous partions. - Orang menuntut supaya kami berangkat.

v Suatu perasaan (craindre – takut; regretter – menyesal; être content – puas; c’est dommage – menyayangkan).

Contoh :

Elle craint que sa mere soit tombée malade.

(Dia takut sampai ibunya jatuh sakit).

C’est dommage qu’il ne fût pas venu.

(Sayang bila dia tidak datang).

v Sebuah keraguan atau ingkar (douter, nier).

Contoh :

Je doute qu’elle soit heureuse. - Saya ragu apakah dia berbahagia.

v Suatu keharusan atau ke (tidak) mungkinan (il faut, il est nécessaire, il est (im) possible).

Contoh :

Il était nécessaire qu’on eût plus d’argent.

(Adalah perlu bahwa orang memiliki uang lebih).

v Jika di antara induk kalimat dengan anak kalimat dipakai kata-kata sambung seperti: afin que, avant que, sans que.

Contoh :

Il travaille afin qu’il réussisse.

(Dia bekerja sampai dia berhasil (akan berhasil).

Nous venons avant que vous soyez parti.

(Kami datang sebelum anda berangkat).

Il partait sans que personne ne le vît.

(Dia berangkat tanpa seseorang melihatnya).

v Dalam anak kalimat sifat, jika anteseden[1] memenuhi persyaratan yang pasti.

Contoh :

Il n’y a personne qui puisse faire cela.

(Tidak seorang pun yang dapat mengerjakan itu).

Jakarta est la plus belle ville qu’il y ait dans notre pays.

(Jakarta adalah kota paling cantik yang ada di negara kita).



[1] anteseden berasal dari antecedent yang berarti “sesuatu benda/orang” yang telah diketahui sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Anda kenal Google?

Google

Selamat Datang

Saya mengucapkan selamat datang kepada semua pengunjung yang telah mengakses blog ini. Untuk keperluan pelajaran bahasa selengkapnya, Anda dapat melihat dalam situs saya pada "Situs Saya Mengenai Bahasa" dalam kolom di sebelah ini.


Bagaimana pendapat Anda mengenai blog saya?

Pengisian E-mail Anda

Nama
E-mail
Pesan

Mengenai Saya

Foto Saya

Saya lahir di Toboali, Bangka. Pernah bekerja di sebuah bank milik permerintah selama beberapa tahun di beberapa kota. Punya 3 orang anak, 2 perempuan dan 1 lelaki. Aktifitas saat ini di dunia maya yaitu menulis artikel di blog dan website, dan menulis buku bahasa serta berwiraswasta di dunia nyata.